Bulan suci Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan atau rutinitas harian. Ia adalah tamu agung yang membawa kesempatan langka bagi setiap jiwa untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menengok ke dalam diri. Bertemakan “Kembali Fitrah”, momen ini menjadi undangan terbuka bagi kita semua—baik orang tua yang kaya akan pengalaman maupun remaja yang penuh energi—untuk menata kembali langkah hidup agar selaras dengan rida Sang Pencipta.
Memahami Esensi Kembali Fitrah
Kata “fitrah” seringkali diartikan sebagai asal kejadian manusia yang suci. Seiring berjalannya waktu, interaksi kita dengan dunia, godaan nafsu, serta kekhilafan yang tak disengaja seringkali menutupi kesucian tersebut dengan debu-debu dosa. Ramadhan hadir sebagai “pembersih” alami.
Bagi para orang tua, Ramadhan adalah waktu untuk memperkuat teladan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Sementara bagi para remaja, bulan ini adalah momentum emas untuk menemukan jati diri yang positif di tengah arus modernisasi yang terkadang membingungkan. Menuju fitrah berarti kita sepakat untuk melepaskan beban masa lalu dan berjanji menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
Langkah Pertama: Membersihkan Hati dan Melapangkan Dada
Langkah awal yang paling krusial sebelum memasuki bulan Ramadhan adalah melakukan rekonsiliasi hati. Secara horizontal, kita perlu memperbaiki hubungan antarmanusia. Meminta maaf dan memberi maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan jiwa.
Bagi remaja, mungkin ada perselisihan kecil dengan teman atau ketegangan dengan orang tua. Bagi orang tua, mungkin ada rasa kaku dalam berkomunikasi dengan anak. Mari jadikan momentum ini untuk meruntuhkan dinding ego tersebut. Dengan hati yang lapang tanpa dendam, ibadah puasa akan terasa jauh lebih ringan dan bermakna. Secara vertikal, kita bersimpuh memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala khilaf yang telah diperbuat sepanjang tahun.
Langkah Kedua: Persiapan Fisik dan Mental
Ramadhan menuntut ketahanan fisik, namun dasarnya adalah kekuatan mental. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan besar jika kita memasuki Ramadhan tanpa persiapan.
- Bagi Orang Tua: Fokuslah pada menjaga kesehatan tubuh dengan pola makan bergizi di waktu sahur dan buka. Kebijaksanaan dalam mengatur tenaga akan membantu Bapak dan Ibu tetap istikamah dalam melaksanakan salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an tanpa mengabaikan kesehatan.
- Bagi Remaja: Latihlah disiplin diri. Gunakan energi muda Anda untuk hal-hal produktif. Mulailah mengurangi durasi penggunaan gawai (gadget) untuk hal yang kurang bermanfaat, dan alihkan fokus pada bacaan atau tontonan yang meningkatkan wawasan keagamaan. Persiapan mental untuk menahan emosi dan lisan di media sosial juga merupakan bagian dari jihad di masa kini.
Langkah Ketiga: Menyusun Agenda Ibadah yang Realistis
Banyak dari kita yang terlalu bersemangat di awal namun “kehabisan bensin” di tengah jalan. Rahasia agar tetap konsisten adalah dengan menyusun agenda yang realistis.
Jangan hanya berpatokan pada kuantitas, tapi utamakan kualitas. Jika biasanya kita jarang membaca Al-Qur’an, jangan langsung memaksakan khatam berkali-kali jika itu membuat kita merasa terbebani. Mulailah dengan satu hari satu juz, atau beberapa lembar dengan pemahaman maknanya. Bagi remaja, cobalah untuk memahami terjemahan ayat yang dibaca agar Al-Qur’an terasa seperti “pesan cinta” yang nyata dari Tuhan, bukan sekadar bacaan tanpa makna.
Ramadhan sebagai Jembatan Antargenerasi
Salah satu keindahan Ramadhan adalah momen kebersamaan. Saat sahur dan berbuka puasa, seluruh anggota keluarga berkumpul di meja yang sama. Ini adalah kesempatan langka di tengah kesibukan sekolah, kuliah, atau pekerjaan.
Gunakan momen ini untuk berdialog. Orang tua dapat berbagi kisah-kisah penuh hikmah tentang kesabaran, sementara remaja dapat berbagi perspektif mereka tentang tantangan zaman sekarang. Dengan komunikasi yang baik, rumah akan menjadi madrasah pertama yang menghidupkan suasana fitrah sebelum kita melangkah keluar ke masyarakat.
Menata Langkah Menuju Kemenangan
Ramadhan adalah maraton, bukan lari cepat. Bulan penuh ampunan ini memberikan kita waktu 30 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Harapannya, setelah Ramadhan berlalu, kita tidak kembali ke kebiasaan lama yang buruk. Kita ingin “lulus” dengan predikat takwa.
Peringatan Isra Mi’raj yang baru saja kita lalui seharusnya menjadi pemantik awal. Jika Isra Mi’raj adalah tentang perintah salat sebagai mi’raj-nya orang beriman, maka Ramadhan adalah tentang penyempurnaan akhlak melalui pengendalian diri. Kedua momen ini saling berkaitan dalam membentuk pribadi yang tangguh secara spiritual dan sosial.
Penutup
Saudaraku, pintu ampunan telah dibuka lebar-lebar. Angin kesejukan Ramadhan sudah mulai terasa hembusannya. Mari kita tata langkah dengan penuh keyakinan. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, dan tidak ada kata terlalu dini untuk mulai berbuat baik.
Mari kita sambut bulan suci ini dengan senyuman dan niat yang tulus. Semoga di akhir perjalanan nanti, kita benar-benar kembali kepada fitrah, seperti bayi yang baru lahir, suci dari dosa, dan penuh dengan cahaya kebaikan.
Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.