Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Apa kabar Ayah, Bunda, dan Sahabat Kebaikan yang dirahmati Allah? Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, ketenangan hati, dan rezeki yang penuh berkah kepada kita semua. Amin.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam hitung-hitungan matematis yang kaku. Kita bekerja keras dari pagi hingga malam, mengumpulkan rupiah demi rupiah, dan merasa cemas jika saldo di tabungan berkurang. Secara logika manusia, ketika kita memiliki sepuluh dan memberikan dua, maka sisanya adalah delapan. Namun, dalam “Matematika Allah”, rumusnya sangat berbeda.
Hari ini, kami ingin mengajak Ayah, Bunda, dan Sahabat untuk melihat melampaui angka-angka tersebut. Kita akan membahas sebuah konsep yang sangat indah namun sering kali terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia, yaitu Keberkahan Rezeki.
Matematika Manusia vs Matematika Iman
Sering kali, rasa enggan untuk bersedekah muncul karena ketakutan akan kekurangan. Kita khawatir jika kita membantu orang lain, kebutuhan keluarga kita sendiri tidak akan tercukupi. Ayah dan Bunda, ketakutan ini adalah manusiawi, namun di sinilah iman kita diuji.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Ayat ini adalah janji nyata. Rezeki yang kita sedekahkan tidak akan hilang, melainkan sedang “dipinjamkan” kepada Allah untuk diganti dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Jika logika manusia melihat pengurangan, maka logika iman melihat investasi masa depan.
Apa Itu Keberkahan?
Banyak orang memiliki harta yang melimpah, namun hidupnya terasa sempit. Tidur tidak nyenyak, keluarga sering berselisih, atau harta habis begitu saja untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Di sisi lain, ada orang yang penghasilannya tampak pas-pasan, namun hidupnya tenang, anak-anaknya shalih, dan hatinya selalu merasa cukup. Inilah yang disebut dengan Barakah (Berkah).
Secara bahasa, berkah berarti Ziyadatul Khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Rezeki yang berkah bukan berarti jumlahnya harus sangat banyak, tetapi rezeki tersebut mampu mencukupi segala kebutuhan dan menghadirkan ketenangan jiwa. Sedekah adalah kunci utama untuk memancing keberkahan tersebut masuk ke dalam rumah kita.
Bagaimana Sedekah Membawa Berkah?
Ayah, Bunda, dan Sahabat Kebaikan, sedekah bekerja dengan cara-cara yang luar biasa yang mungkin tidak terpikirkan oleh akal kita:
- Menjauhkan dari Musibah (Tolak Bala): Kadang, Allah mengganti sedekah kita bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk perlindungan. Mungkin seharusnya kita atau anak kita jatuh sakit yang memerlukan biaya jutaan rupiah, namun karena sedekah kita, Allah menjaga kesehatan keluarga kita. Itulah rezeki yang tak ternilai harganya.
- Membuka Pintu-pintu Solusi: Saat kita membantu kesulitan orang lain, Allah berjanji akan membantu kesulitan kita. Masalah pekerjaan yang buntu atau urusan bisnis yang macet sering kali tiba-tiba mendapatkan jalan keluar setelah kita bersedekah secara tulus.
- Mendidik Hati agar Merasa Cukup (Qana’ah): Sedekah melatih kita untuk melepaskan keterikatan pada dunia. Saat kita berbagi, kita sedang menyatakan pada diri sendiri bahwa Allah-lah sumber segalanya. Perasaan cukup ini adalah kekayaan yang sesungguhnya.
- Menyucikan Harta: Harta yang kita miliki mungkin saja tercampur dengan hal-hal yang kurang bersih (seperti syubhat). Sedekah hadir sebagai pembersih, sehingga harta yang tersisa benar-benar murni dan membawa kebaikan bagi keluarga.
Pesan untuk Ayah dan Bunda di Rumah
Dalam membangun rumah tangga yang harmonis, keberkahan jauh lebih penting daripada sekadar kemewahan. Ayah, sebagai pemimpin keluarga, setiap rupiah yang Ayah sisihkan untuk anak yatim atau dhuafa akan menjadi pelindung bagi anak istri di rumah. Bunda, sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, ketika Bunda mengajarkan mereka untuk rutin bersedekah, Bunda sedang menanamkan fondasi mental kaya yang sesungguhnya.
Bayangkan jika setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, kita sudah mengawali hari dengan “mengetuk pintu langit” lewat sedekah. Itulah yang kami sebut dengan Sedekah Subuh. Doa malaikat yang turun di waktu subuh akan menyertai setiap rupiah yang kita keluarkan, memohonkan ganti yang lebih baik kepada Allah SWT.
Sedekah: Investasi yang Tak Pernah Merugi
Jika kita berinvestasi di pasar saham atau bisnis dunia, selalu ada risiko kerugian. Namun, berinvestasi lewat sedekah di jalan Allah adalah satu-satunya investasi dengan jaminan keuntungan 100% dan keuntungan berlipat ganda.
Sahabat Kebaikan, Rezeki itu ibarat air di dalam sumur. Jika airnya tidak pernah diambil, air itu akan menjadi tenang namun lama-kelamaan bisa menjadi kotor. Namun, jika air sumur terus diambil untuk memberi minum orang lain, maka mata air di bawahnya akan terus memancarkan air baru yang lebih segar, lebih jernih, dan lebih melimpah. Itulah perumpamaan harta yang disedekahkan.
Penutup: Mari Menjemput Keberkahan Hari Ini
Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena justru berbagi itulah yang akan membuat kita “kaya” di mata Allah dan manusia. Mari kita ubah cara pandang kita terhadap harta. Jangan hanya menghitung angka di rekening, tapi hitunglah berapa banyak manfaat yang telah kita berikan kepada sesama.
Kami di Yayasan Dharma Kasih senantiasa siap menyalurkan sedekah dari Ayah, Bunda, dan Sahabat kepada mereka yang paling membutuhkan—mulai dari anak-anak yatim penghafal Quran hingga lansia dhuafa. Setiap rupiah yang Sahabat salurkan adalah benih keberkahan yang akan tumbuh menjadi pohon kebaikan di dunia dan akhirat.
Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan rezeki kita semua, menjadikan harta kita sebagai sarana menuju surga-Nya, dan memberikan keberkahan yang tak putus-putus bagi keluarga kita tercinta.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.