Mengapa Bulan Ramadan Disebut Bulan Al-Qur’an? Menelusuri Jejak Nuzulul Qur’an

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Bagi umat Islam di seluruh dunia, kedatangan bulan suci ini membawa identitas yang sangat melekat, yakni Syahrul Qur’an atau Bulan Al-Qur’an. Hubungan antara Ramadan dan Al-Qur’an bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah ikatan fundamental yang ditegaskan langsung oleh Sang Pencipta dalam wahyu-Nya.

Menjelang Ramadan 1447 H yang jatuh pada tahun 2026 ini, penting bagi kita untuk menilik kembali sejarah dan makna di balik julukan tersebut agar ibadah kita tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang transformatif.

Akar Sejarah: Peristiwa Nuzulul Qur’an

Alasan utama Ramadan disebut Bulan Al-Qur’an tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…”

Nuzulul Qur’an secara harfiah berarti “turunnya Al-Qur’an”. Para ulama menjelaskan bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua tahap utama. Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar. Tahap kedua adalah penurunan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.

Peristiwa besar ini menjadikan Ramadan sebagai “wadah” bagi mukjizat terbesar sepanjang masa. Tanpa Ramadan, kita tidak akan mengenal cahaya Al-Qur’an yang menjadi kompas hidup umat manusia. Oleh karena itu, merayakan Ramadan tanpa mempererat kedekatan dengan Al-Qur’an terasa seperti mendatangi pesta tanpa menyentuh hidangan utamanya.

Mengapa Kita Harus Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadan?

Selain faktor sejarah, kedekatan Rasulullah SAW dengan Al-Qur’an di bulan ini menjadi teladan utama. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Malaikat Jibril AS mendatangi Nabi Muhammad SAW pada setiap malam di bulan Ramadan untuk melakukan tadarusan atau mengecek hafalan Al-Qur’an beliau.

Tradisi ini kemudian diikuti oleh para sahabat dan ulama salaf. Imam Syafii, misalnya, diriwayatkan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadan—yakni dua kali dalam sehari. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah waktu di mana intensitas interaksi kita dengan kalam Allah harus mencapai puncaknya.

Setiap huruf yang kita baca di bulan biasa saja bernilai sepuluh kebaikan. Bayangkan jika amalan tersebut dilakukan di bulan Ramadan, di mana pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pahala dilipatgandakan tanpa batas.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk (Hudan)

Sebutan Bulan Al-Qur’an juga mengingatkan kita pada fungsi utama kitab suci ini: sebagai Hudan (Petunjuk). Di tengah hiruk-pikuk dunia modern tahun 2026 yang penuh dengan ketidakpastian dan distruksi informasi, Al-Qur’an hadir sebagai penyaring.

Ramadan menjadi momentum untuk melakukan “re-orientasi” hidup. Dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkan isi Al-Qur’an, kita sedang menyelaraskan kembali navigasi moral dan spiritual kita agar tetap berada di jalur yang benar (Sirotol Mustaqim).

Tantangan Nyata: Krisis Mushaf di Pelosok Negeri

Namun, di tengah semangat kita menyambut “Bulan Al-Qur’an”, ada kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Di pelosok Nusantara, masih banyak saudara-saudara kita yang harus mengaji dengan mushaf yang sudah tidak utuh. Lembaran yang robek, tulisan yang pudar, hingga satu mushaf yang harus digilir oleh sepuluh santri adalah pemandangan yang lazim di wilayah terpencil.

Bagaimana mereka bisa merayakan “Bulan Al-Qur’an” dengan maksimal jika fisik kitab sucinya saja sulit didapatkan?

Inilah mengapa Yayasan Dharma Kasih Jaktim merasa terpanggil untuk menjembatani kebaikan ini. Melalui program wakaf Al-Qur’an, kami berkomitmen mengirimkan mushaf-mushaf baru yang layak agar lantunan ayat suci tidak pernah padam di pelosok negeri, terutama saat Ramadan tiba.

Menutup Kekurangan 100 Mushaf Terakhir

Saat ini, kami sedang bersiap melakukan distribusi besar-besaran ke wilayah pedalaman yang sulit terjangkau. Namun, kami masih menghadapi kendala kecil: Kami masih kekurangan 100 Al-Qur’an lagi untuk memenuhi target distribusi tahap ini.

Angka 100 mungkin terlihat kecil di mata dunia, namun bagi 100 santri di pelosok, satu mushaf adalah jendela ilmu yang akan mereka buka setiap hari seumur hidup mereka. Setiap huruf yang mereka baca di tengah dinginnya malam Ramadan di pedalaman, pahalanya akan mengalir langsung kepada Anda yang mewakafkannya.

Mari Menjadi Bagian dari Sejarah Kebaikan

Menyambut Ramadan bukan hanya soal membeli baju baru atau menyiapkan menu berbuka. Menyambut Ramadan adalah soal mempersiapkan amal jariyah yang akan menemani kita di alam kubur.

Kami mengajak Bapak/Ibu dan seluruh sahabat peduli untuk bersama-sama menggenapi kekurangan 100 mushaf ini. Jangan biarkan rencana pengiriman ini tertunda. Jadikan harta Anda sebagai saksi bahwa Anda adalah bagian dari mereka yang memuliakan Al-Qur’an di bulannya yang suci.

Salurkan wakaf terbaik Anda melalui platform resmi kami: 🌐 www.ydkpeduli.com

Dengan berwakaf, Anda tidak hanya memberi sebuah buku, tetapi Anda sedang menanam cahaya di hati anak-anak bangsa yang kelak akan menjadi penjaga agama ini.

Penutup Mari kita jadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum untuk kembali ke Al-Qur’an. Bacalah ia, pahami maknanya, dan sebarkan fisiknya kepada mereka yang membutuhkan. Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan bulan penuh ampunan ini dalam keadaan iman yang paling prima. Amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *