Hari Jum’at adalah hari yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam. Di antara hari-hari lain dalam sepekan, Allah memberikan kehormatan tertentu kepada hari Jum’at hingga ia dikenal sebagai “Sayyidul Ayyam”—pemimpin seluruh hari. Keistimewaan ini ditegaskan bukan hanya dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, tetapi juga dalam Al-Qur’an, yang menjelaskan keagungan hari Jum’at melalui perintah, ajakan, dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ibadah yang dijalankan pada hari itu.
Salah satu surat yang secara langsung membahas hari Jum’at adalah Surat Al-Jumu’ah, khususnya ayat 9–11. Ayat-ayat ini menjadi landasan utama keistimewaan hari Jum’at dan praktik ibadah yang dilakukan di dalamnya.
1. Hari Jum’at Diangkat sebagai Hari Ibadah dan Peringatan Besar (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian menuju mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…”
(QS. Al-Jumu’ah: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa hari Jum’at menjadi hari istimewa karena:
- Ada seruan khusus dari adzan untuk shalat Jum’at, berbeda dengan hari-hari lainnya.
- Allah memerintahkan umat Islam bersegera menuju shalat, bukan sekadar datang tepat waktu.
- Allah melarang aktivitas dunia, seperti jual beli, pada waktu khutbah dan shalat berlangsung.
Ini adalah bentuk pengagungan terhadap hari Jum’at yang tidak diberikan kepada hari lainnya. Seruan untuk meninggalkan aktivitas dunia ini menunjukkan bahwa hari Jum’at memiliki kedudukan spiritual khusus, di mana umat Islam diundang untuk fokus penuh kepada Allah.
2. Shalat Jum’at Ditentukan sebagai Pengganti Shalat Zuhur (QS. Al-Jumu’ah: 9–10)
Masih dalam rangkaian ayat tersebut, Allah berfirman:
“…dan apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah…”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini menjelaskan bahwa:
- Shalat Jum’at adalah ibadah khusus yang menggantikan shalat Zuhur, dan hal ini menjadi kekhususan hari Jum’at.
- Allah memberikan keseimbangan antara ibadah dan aktivitas dunia—setelah shalat selesai, umat diperintahkan kembali bekerja, berdagang, dan berusaha.
Wisdom dari ayat ini menunjukkan bahwa hari Jum’at adalah hari penyempurna hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tanpa mengabaikan tanggung jawab dunianya.
3. Hari Jum’at Menjadi Waktu Mengingat Allah dengan Lebih Khusyuk
Di dalam ayat 9, Allah memerintahkan:
“…maka bersegeralah kepada mengingat Allah…”
Kata “mengingat Allah” (dzikrullah) dalam ayat ini dipahami:
- sebagai khutbah Jum’at, yang berisi nasihat dan pengingat iman,
- dan sebagai shalat Jum’at itu sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa hari Jum’at adalah hari yang Allah tetapkan sebagai momen pengingat besar bagi umat, melalui khutbah dan ibadah yang lebih agung dari biasanya.
4. Hari Jum’at Diingatkan dalam Al-Qur’an sebagai Ujian Ketaatan (QS. Al-Jumu’ah: 11)
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan meninggalkanmu (wahai Muhammad) berdiri…”
(QS. Al-Jumu’ah: 11)
Ayat ini turun sebagai peringatan ketika sebagian sahabat meninggalkan khutbah Nabi karena mendengar suara dagangan yang datang dari luar masjid. Allah mengecam tindakan tersebut dan menegaskan bahwa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada perdagangan dan hiburan.
Pesan ini menunjukkan:
- Hari Jum’at menjadi tolok ukur kualitas keimanan, yaitu ketika seorang hamba didahulukan untuk mengutamakan ibadah dibanding urusan dunia.
- Umat Islam diuji untuk memilih nilai spiritual daripada kesenangan duniawi.
5. Shalat Jum’at Mengandung Rahmat Khusus dari Allah (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Allah menutup ayat 10 dengan firman-Nya:
“…dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Ayat ini mengisyaratkan bahwa:
- Hari Jum’at adalah hari pelipatgandaan pahala dzikir.
- Meningkatkan ibadah pada hari ini menjadi sebab turunnya keberuntungan (al-falah) menurut Al-Qur’an.
Makna al-falah dalam Al-Qur’an mencakup:
- keselamatan dunia dan akhirat
- kelapangan rezeki
- ketenangan jiwa
- keberhasilan dalam amal
Ini menggambarkan bahwa hari Jum’at memiliki dimensi keberkahan yang sangat besar menurut Al-Qur’an.
6. Hari Jum’at Terkait dengan Misinya Rasulullah dalam Surat Al-Jumu’ah
Surat Al-Jumu’ah juga menggambarkan fungsi Rasulullah SAW:
“…Dia-lah yang mengutus seorang Rasul di antara mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah…”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)
Korelasi ayat ini dengan hari Jum’at menunjukkan:
- Hari Jum’at adalah hari penyampaian hikmah dan ilmu yang dibawa Rasulullah melalui khutbah.
- Hari ini menjadi hari yang menghidupkan kembali ajaran Nabi kepada umat.
Karenanya, khutbah Jum’at bukan hanya formalitas, tetapi penyambung misi kenabian yang langsung disinggung dalam Al-Qur’an.
Kesimpulan
Keistimewaan hari Jum’at dalam Al-Qur’an tercermin melalui perintah-perintah khusus dan nilai ibadah yang tidak dimiliki hari lainnya. Al-Qur’an menegaskan bahwa hari ini:
- adalah hari pengingat dan pertemuan umat,
- hari untuk meninggalkan kesibukan dunia,
- hari penyampaian khutbah penuh hikmah,
- hari ibadah utama yang mengandung rahmat dan keberuntungan,
- sekaligus ujian ketaatan bagi hamba-hamba yang beriman.
Dengan memahami keistimewaan ini berdasarkan Al-Qur’an, seorang Muslim dapat memaksimalkan ibadahnya dan meraih keberkahan hari Jum’at dengan sebaik-baiknya.